Terkait dengan perombakkan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dilakukan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 18 Oktober 2011 tidak mengganggu para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya. Sebenarnya hal yang menjadi gangguan bagi pelaku usaha untuk menjaga kestabilan dan meningkatkan kemapanan dunia usaha untuk berekspansi adalah regulasi atau dengan kata lain adalah aturan atau batasan yang sering berubah-ubah yang ditentukan oleh pemerintah, seperti penetapan bunga perbankan, konsistensi kepastian hukum infrastrukturnya jalan, sumber energi dan lain-lain yang mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai “orang biasa” bukan pemegang otoritas regulasi atau pemegang likuiditas menjadi keharusan untuk mengenal tanda-tanda dan melakukan langkah antisipatif. Bagaimanapun resuffle yang dilakukan oleh pemerintah dapat meminimalisir dampak resesi global dan kepastian hukum dengan regulasi yang dilakukan harus sesuai dan tepat, sehingga tidak berdampak buruk bagi pelaku usaha dalam dunia bisnis. Dampak reshuffle kabinet terhadap perusahaan nasional dan asing tidak berpengaruh terlalu besar, namun hal ini berhubungan erat dengan krisis global yang terjadi, sehingga dengan resuffle ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk mencari solusi yang paling ampuh dari krisis saat ini dan ke depannya adalah menguasai pasar dalam negeri. Selain itu, terus mendorong infrastruktur di Indonesia agar geliat ekonomi bisa lebih tinggi. Oleh karena itu, reshuffle kabinet yang sedang dirancang presiden SBY bersama Wakil Presiden Boediono hendaknya berorientasi pada tantangan bangsa terkini, yakni efek domino resesi global dan urgensi mengamankan stok pangan nasional. Ingat bahwa ketidakpastian ekonomi global saat ini akan berdurasi lebih lama, dan akan melahirkan ekses yang sangat beragam. Bisa jadi, perkembangan faktor eksternal hingga tahun 2014 memaksa pemerintahan SBY terus berupaya meminimalisir dampak krisis. Kalau pemerintahan SBY mampu meminimalisir dampak krisis, rakyat akan mensyukuri keberhasilan itu. Ukurannya sederhana saja. Stok bahan pangan tersedia dalam jumlah cukup, dengan harga terjangkau. Maka, stabilitas keamanan dan ketertiban umum akan mudah dijaga. Persoalannya menjadi lain, jika stok bahan pangan terganggu dan terjadi lonjakan harga.
Dampak yang dihadapi bangsa ini dalam dunia bisnis bukan hanya masalah resuffle kabinet, namun peristiwa gempa yang terjadi di Nusa Dua, Bali pada bulan yang ang sama, yaitu 13 Oktober 2011. Gempa berkekuatan 6,8 Skala Richter pada pukul 11.16 WITA, dan terjadi lagi gempa susulan pukul 15.52 WITA dengan kekuatan 5,6 Skala Richter. Kejadian ini jelas membuat panik warga lokal maupun wisatawan. Banyak bangunan yang mengalami kerusakan mulai dari rumah sakit, hotel, pertokoan dan bangunan lainnya. Namun kepanikan ini hanya kepanikan sesaat, karena setelah situasi aman terkendali, kelangsungan bisnis usaha di Bali berlangsung normal kembali, bahkan para wisatawan lokal maupun mancanegara tidak membatalkan perjalanan mereka untuk liburan di Bali, dan wisatawan yang sudah berada di Bali pada saat kejadian tetap melanjutkan liburannya di Bali. Jelas sekali, bahwa peristiwa gempa yang terjadi ini tidak berpengaruh buruk pada usaha bisnis di Bali, karena semuanya berlangsung seperti biasanya. setelah gempa berakhir para masyarakat kembali ke aktivitas mereka tetapi dengan keadaan yang masih was-was tapi sebagian mayarakat bali dan para turis tetap menjalankan aktifitasnya sehari-hari dan para turis yang berada dekat laut juga masih berjalan normal. jadi setelah gempa terjadi tidak ada perubahan yang signifikan terhadap keadaan dan aktivitas sehari-hari.
Sumber :
www.bisnis.com
www.qnoyzone.blogdetik.com
www.isni-oktria.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar