Minggu, 02 Oktober 2011

Proprietary VS Open Source

trkadang saya sering bertanya-tanya karena beberapa piranti menggunakan konektor proprietary, saya sering bingung juga dengan sistem operasi dan aplikasi yang punya format dokumen sendiri-sendiri. Kenapa sih aplikasi itu tidak menggunakan format dokumen yang seragam untuk fungsinya dan kegunaan sama?

Contohnya nih, Microsoft Word 2007 mulai menggunakan format dokumen .docx yang merepotkan pengguna aplikasi pengolah teks semacam OpenOffice.Org atau Microsoft Word yang lebih rendah versinya. Mau tak mau, kita harus menggunakan aplikasi MS Word 2007 tersebut dan harus membeli seharga sekitar US $ 150 (harga pelajar)! Itu pun kita harus membeli seluruh paket Office, tidak bisa cuma beli MS Word-nya saja.

Memang sih, kita bisa pakai aplikasi converter, namun kok rasanya tidak efektif. Harus melalui dua kali proses yang merepotkan.

Alasannya, karena format .docx ini mendukung standar XML dan kompresi demi kemudahan berbagi dokumen. Padahal format .odt (open document text) sudah mendukung XML dan kompresi. Kenapa Microsoft malah bikin format dokumen sendiri?

Coba bayangkan, kalo MISALNYA Microsoft mengalami gulung tikar, kemudian proyek Office Suite mereka berhenti dan celakanya format dokumen mereka tidak dibuka, mau tak mau kita akan terus bergantung pada Microsoft. Tergantung pada orang lain itu sangat tidak mengenakkan, bukan?

Nah, dengan format OpenDocument, semua orang bisa melihat dan bisa membuat aplikasi untuk membaca format tersebut, tentu akan muncul banyak pilihan aplikasi untuk membaca format dokumen tersebut, bukan? Inilah keuntungan open source.

Kalo menengok ke belakang, sejarah panjang Internet tak lepas dari peran open source. Misalkan pihak militer Amerika denga ARPANET-nya saat itu tidak membuka informasi tentang sistem komunikasi mereka, tentu Internet tidak akan berkembang semacam ini.

Contoh lain adalah Linux. Andai Linus Torvalds tidak membuka source-code kernel-nya ke publik, tentu Linux tidak akan sebesar dan sedahsyat ini. Linux merupakan salah satu bukti kekuatan open source.

Dengan open source, pengembangan aplikasi menjadi lebih mudah dan cepat karena setiap orang bisa berkontribusi ke dalam proyek tersebut (serta memakainya) sehingga bisa menghemat waktu dan biaya pengetesan (dengan adanya publik sebagai beta tester).

Selain itu, banyak aplikasi akan menggunakan format data yang sama, sehingga ketika ada aplikasi baru, tidak perlu membuat format data baru. Pun demikian dengan data, jika banyak aplikasi yang bisa memanfaatkan data tersebut, makin mudah kita menggunakan data tersebut.

Jadi, kesimpulannya, jika bisa open source, kenapa harus proprietary?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar